Traveling itu ibarat candu bagiku. Kali ini saya akan membahas seputar traveling asyik nan murah ala backpacker.
Dimulai pada tahun 2016 lalu, tepatnya sekitar bulan Juni, pertama kalinya saya mendarat di Kota Batam. Ya, kota yang katanya harga barang-barang elektroniknya murah hehe. Terbesit keninginan saya untuk mencari tahu hal tersebut. Dan setelah saya telusuri, mengapa harga barang elektronik di Kota Batam lebih murah dibandingkan dengan di tempat lain karena di Batam ada kebijakan free pajak. So, semua barang-barang impor tidak dikenakan pajak yang sebesar 10% itu. Jadi kalau harga HP di Jakarta Rp 1.000.000 di Batam harganya Rp 900.000. Jadi memang benar kalau Batam itu surganya belanja hehe.
Well, ini pertama kalinya saya mengunjungi Batam, bukan cuma berkunjung sih, karena saya akan tinggal disana sekitar
+ 3 bulan, terhitung sejak Juni -September 2016 untuk sebuah project. Saya ingat ketika itu hari pertama puasa, saya beramgkat dari Jakarta dan sahur di jalan, kebetulan pesawat saya terbang jam 05.30 Pagi berangkat dari Soekarno Hatta International Airport menuju Hang Nadim International Airport.
Besar dan tinggal di daerah sedikit membuat saya merasa bahwa dunia itu sempit. Maklum saya dari kota kecil di pesisir Sumatera hehe. Jadi untuk berpergian ke luar daerah jarang saya lakukan, apalagi memiliki rencana untuk ke luar negeri adalah hal yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Belum lagi bahasa inggris saya juga pas-pasan. Mengingat Batam merupakan daerah khusus yang ditetapkan oleh pemerintah yang juga merupakan pintu gerbang terbesar ketiga bagi turis mancanegara yang masuk ke Indonesia. Tapi pengalaman selama 1 tahun hidup dan tinggal di Jakarta memberikan semangat dan pemikiran baru buat saya. Keinginan saya untuk mengexplore diri semakin menggebu-gebu. Kebetulan ketika itu saya dapat project ke Batam. Jadi saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Rencana dan persiapan sudah saya atur sedemikian rupa. FYI, sebelumnya saya belum punya passport, jadi saya buat passport di Batam. Prosesnya cukup mudah, karena saya tidak ingin antri di kantor imigrasi Batam, jadi saya putuskan untuk mendaftar secara online di
http://www.imigrasi.go.id/. Kebetulan sistem pendaftaran passport online sudah tersedia dan bisa dkakses. Saya pilih untuk membuat passport biasa, karena kalau passport elektronik rada sensitif dan mesti dijaga baik-baik agar tidak rusak. Tapi makin kesini saya merasa pasport elektronik akan lebih berguna mengingat Jepang sudah membebaskan visa bagi pemegang pasport elektronik hehe. Cukup dengan membayar biaya pembuatan passport sebesar 355.000. Setelah proses pendaftaran dan pembayaran selesai saya mendaftarkan diri di kantor imigrasi untuk proses wawancara, pengecekan berkas, dan photo session dan 4 hari kemudian saya mendapatkan passport pertama saya. Walaupun belum tau kapan ke luar negerinya, yang penting udah punya passport dulu (permainan mindset) hehe.
Sesuai dengan rencana awal, saya berencana untuk ke Singapore bersama Mona Ervita, sohib banget dari kecil, tetapi berhubung ada hal-hal lain, jadi dia memutuskan untuk berlibur ke Lombok. NB: Mona memang partner terbaik untuk jalan-jalan :D.
Saya melakukan riset sekitar 1 minggu mengenai destinasi wisata negeri singa, kemudian saya beranikan diri untuk berangkat. Waktu itu adalah lebaran pertama dan saya pengen menghabiskan lebaran saya di negeri orang hehe. Oh iya ini adalah solo traveling saya yang pertama. Niatannya sih ngasih challenge gitu ke diri sendiri, berani ga sih traveling sendirian? hehe
Jam 06.00 pagi saya sudah bersiap untuk berangkat ke Pelabuhan Batam Center. Pelabuhan ini berada di pusat pemerintahan Kota Batam yang langsung terintegrasi dengan Mall Batam Center, Kereeeen. Saya menggunakan jasa penyeberangan dari Sindo Ferry. Harganya 300 ribu untuk tiket PP Batam-SG dan SG-Batam, udah termasuk seaport tax lagi. Oh iya, saya sarankan jangan membeli tiket
on the spot di pelabuhan, karena akan lebih mahal dibanding membeli di gerai gerai loket pada umumnya. Waktu itu saya beli tiket ferry di Mall Batam Center 3 hari sebelumnya, sekalian nuker uang di money changer.
Untuk perjalanan kali ini saya hanya persiapkan Budged Rp 2.000.000 saja, sekitar SGD 200. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam 10 menit menuju Harbourfront Ferry Terminal.
Suasana di pelabuhan Harbourfront, diseberangnya ada Pulau Sentosa tempat Universal Studio
Saya kaget ketika sampai, suasana sangat ramai. saya sampai di Singapore jam 11.10 waktu Singapore. Waktu Singapore memang lebih cepat 1 jam dari WIB dikarenakn faktor politik. Mungkin karena hari libur panjang, jadi banyak warga Indonesia berbondong-bondong wisata ke negeri singa. Saya sempat dicegat oleh salah satu petugas imigrasi Singapore. Kesannya seperti pengalaman pahit. Mungkin karena saya pergi sendirian jadi saya dicurigai. Bisa jadi tampang saya mirip penjahat haha. Setelah diintrogasi selama sebih dari 1 jam saya dibebaskan. Alhamdulillah. Padahal udah pucat pasi waktu itu takut dideportasi dari Singapore. Sampai saya sempat dimakukkan ke alat semacam inkubator sambil disemprot-semprot dengan udara. Semua diperiksa, mulai dari kelengkapan dokumen, apa tujuan ke Singapore, akan tinggal dimana selama di singapore, asal dari mana, nama orang tua, dan jumlah uang yang dibawa juga akan ditanya haha. Saya jadi dapet pengalaman baru diintrogasi pihak imigrasi ✌✌✌. Sebagai catatan, dari beberapa cerita para traveler lain, petugas imigrasi singapore memang cenderung ketat dalam memeriksa. Dikarenakan mereka tidak mau kecolongan sedikitpun hal-hal yang tidak diingikan masuk ke singapore.
Pelabuhan Harbourfront langsung terintegrasi dengan Mall Vivo City, menurut kabar, mall ini merupakan mall terbesar di negeri singa dan langsung akan terintegrasi oleh stasiun MRT (Mass Rapid Transit). Lalu untuk provider telekomunikasi, saya menggunakan
Singtel tourist pass dengan kuota data 4 GB masa aktif selama 1 minggu yang saya beli di dalam mall. Harganya cukup mahal sekitar SGD 15, ternyata harga di seven eleven jauh lebih murah. Nyesel saya beli hiks...
Peta Jalur MRT di Singapore
MRT merupakan transportasi yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Singapura, selain murah dan juga bebas polusi, statiun-stasiun MRT juga langsung terintegrasi dengan titik-titik penting yang ada di Singapore. Jangan lupa beli kartu MRT dulu di loket stasiun. Kita bisa memilih menggunakan EZ Link Card Tourist pass atau membeli kartu EZ Link Card Regular. Saya lebih memilih EZ Link Card yang regular yang masa aktifnya lebih lama, sekitar 3 tahun.
Kartu EZ Link Card MRT
MRT Map
Sesuai dengan itenerary, saya akan menghabiskan 3 hari di negeri singa. Dari Vivo city saya langsung menuju Bugis dan turun di Stasiun Bugis. Sebelumnya saya sudah memesan Hostel lewat traveloka, pilihan saya jatuh pada ABC Backpackers Hostel di jalan Kubor dekat dengan Masjid Sultan. harganya juga bersahabat Rp 170.000 permalam, sudah komplit termasuk breakfast dan wifi, 1 kamar berisi 8 orang dengan 4 tempat tidur bertingkat. Untung kamar tersebut tidak penuh, hanya berisi 4 orang saja hehe.
ABC Backpackers Hostel
Berhubung dalam suasana Idul Fitri, hari pertama saya langsung menuju Masjid Sultan atau orang lokal biasa nyebutnya dengan Sultan Mosque yang terletak masih di daerah Bugis. Masjid ini merupakan masjid tertua di Singapore. Lingkungannya sangat kental dengan suasana arab, karena di daerah sini terdapat kampung-kampung arab, seperti Arab street dan kampung Glam. Makanannya pun juga banyak terdapat makanan Arab dan India seperti nasi kebuli dan nasi briyani dengan porsi Jumbooooooo. Setelah puas menjelajahi Kampong Arab, saya segera menuju Garden by the Bay menggunakan MRT. Saya sengaja berangkat sore, karena tujuan saya hari itu adalah Merlion Park yang akan sangat indah di malam hari.
Garden by the Bay dan Marina Bay Sand
Singapore River
Yang perlu diketahui, malam hari merupakan saat yang tepat untuk melihat keindahan Singapore. Saya begitu takjub dengan permainan laser dari Marina Bay Sand dan suasana gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi. malam itu saya habiskan menikmati indahnya negeri singa hehe.
Hari kedua saya start dari hostel jam 09.00 waktu Singapore. Tujuan saya adalah Bencoolen street, National Museum, SMU, dan China Town. Bencoolen street sangat menarik perhatian saya, sebagai orang yang lahir dan besar di Bengkulu, saya begitu penasaran akan nama jalan ini. Menurut sejarah, Nama Bengkulu sendiri berasal dari Bencoolen semasa Zaman Kolonial Inggris, kemudian saat Indonesia ditukar dengan Singapura oleh Inggris kepada Belanda, maka nama Bencoolen juga dibawa ke Singapore. Jadi jangan heran kalau Bunga Raflesia yang notabennya adalah bunga endemik Provinsi Bengkulu begitu dikenal di Singapura, karena dulu ditemukan oleh Sir Thomas Stanford Raffles ketika di Bengkulu. Saya sengaja memilih destinasi yang tidak biasanya. Karena tujuan utama saya traveling itu sendiri adalah mengamati dan belajar. Pertanyaannya adalah mengamati apa? belajar apa?
Jepang ketika terisolasi mereka begitu tertinggal sampai terjadi Restorasi Meiji yang membuka Jepang ke dunia Internasional. Bangsa Jepang berhasil membawa apa yang mereka pelajari di luar, sehingga Jepang berhasil menjadi negara maju seperti sekarang. Jadi bukan berarti Indonesia terisolasi seperti Jepang sebelum ada Restorasi Meiji ya, tapi lewat traveling saya akan berusaha membawa hal-hal yang positif untuk Indonesia. Saya juga begitu takjub dengan model promosi pariwisata mereka. 2015 saja jumlah wisatawan mancanegara mereka mencapai 15,2 juta wisatawan, sekitar 30% dari mereka adalah warga negara Indonesia, termasuk saya. Padahal jumlah penduduk Singapore sendiri berjumlah 5 juta orang. Artinya jumlah wisatawan Singapore 3 kali lebih banyak daripada jumlah penduduknya sendiri. Amazing kan? Keberadaan city maps akan sangat membantu para wisatawan yang akan berkeliling Singapore yang tersedia di semua penginapan di negeri singa secara GRATIS. Setelah puas mengelilingi daerah Bencoolen Street saya langsung menuju National Museum of Singapore dengan berjalan kaki, lumayan olahraga sedikit, mumpung tidak terlalu jauh. Kemudian saya langsung memasuki area Singapore Management University (SMU) sebagai sekolah bisnis top di SIngapore bahkan di Asia yang letaknya hanya berseberangan dengan National Museum of Singapore. Saya jadi ingat, apakah saya bisa melanjutkan studi saya di negeri ini? suatu saat nanti.

Bencoolen Street
Museum Nasional Singapura
SMU Campus
China Town's Gate
Stasium MRT China Town
Selanjutnya pemberhentian saya tertuju pada kawasan pecinan yang tersohor itu. China Town. Dari kecil saya sangat tertarik dengan budaya China. China Town identik dengan souvenir dan wisata kulinernya. Keunikan China town itu sendiri ada pada perpaduan budayanya yang menghasilkan budaya peranakan. Mulai dari makanannya, suasananya dan lingkungannya. Bagi kaum Muslim harus lebih berhati-hati dalam memilih makanan jika ingin mencicipi kuliner khas China Town, karena banyak sekali hawker stall atau street food yang menyajikan makanan yang tidak halal. Saran saya bertanya dahulu sebelum membeli, kebanyakan makanan halal yang recommended di china town adalah di pasar bagian atas, di sana banyak tersedia kedai-kedai makanan yang menjualan makanan berbahan dasar ikan. Singapore sendiri terkenal sebagai negara dengan biaya hidup yang tinggi. Tapi jangan khawatir, masih banyak kok tempat makan murah yang recommended, salah satunya adalah Annanas Cafe yang terdapat di banyak stasiun MRT, salah satunya di Stasiun Outram Park dan Tiong Bahru, cukup SGD 2 udah dapet nasi lemak + nuget Ayam hehe.
Hari ketiga agenda saya berlanjut ke NUS alias National University of Singapore, kampus yang selalu saya impikan untuk melanjutkan studi di sana. Kebetulan pagi itu Singapore sedang hujan ringan, Kendati demikian, saya memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Saya pikir hujan sedikit, nanti setelah masuk MRT juga tidak akan basah hehe. Hari itu adalah hari terakhir saya di Singapore, saya berancana untuk kembali ke Batam pada sore harinya. Pemberhentian pertama di NUS saya langsung turun di Stasiun Kent Ridge yang bersebelahan dengan NUS Hospital, FK nya NUS, kereeeeen. Kampus kondang yang satu ini memang terkenal sebagai kampus terbaik di Asia dan bahkan masuk top 20 kampus terbaik di Dunia versi QS World Ranking setiap tahunnya. Akses untuk menuju Area NUS tersedia bus kampus yang memadai dan cukup banyak jumlahnya sehingga mahasiswa tidak perlu berlajan kaki.
NUS Campus
Saya berjanji dengan diri saya, suatu saat saya akan melanjutkan sekolah di sana. Perjalanan berlanjut ke Little India. Kurang Afdol rasanya jika ke Singapore tidak ke Little India. Saya begitu terpana ketika melihat kuil-kuil di sana dengan arsitektur khas India.
Sri Veeramakaliamman Temple
Menjelang siang sebelum pulang ke tanah air, saya sempatkan untuk wisata kuliner di daerah bugis, daerah ini banyak sekali terdapat food stall yang recommended, saya mencoba laksa singaporean, harganya sekitar SGD 5 walaupun rasanya sedikit berbeda dengan laksa-laksa yang pernah saya cicip di Sumatera, tapi untuk rasa recommended lah. Lalu jenis-jenis es juga saya coba untuk menghilangkan rasa penasaran saya, harganya sekitar SGD 1,5 - 2,5. Jika mau membeli souvenir, saya sarankan untuk membeli di Bugis Street, saya telah mencoba membandingkan harga di China Town dengan di bugis street. Ternyata harga Bugis Street lebih recommended dan lebih banyak pilihannya. jadi saya putuskan beli di Bugis hehe.
Pukul 16.00 waktu singapore saya putuskan untuk menuju Batam melalui Harbourfront lagi, kondisi saat itu sangat ramai, sehingga saya baru kebagian ferry jam 20.00 waktu Singapore, dan sampai di Batam jam 22.15, Alhamdulillah sampai dengan selamat.
Cerita pengalaman travelling itu merupakan pertama kalinya saya travelling ke luar negeri yang menuntut saya untuk bisa berkomunikasi dengan masyaraat lokal. Lewat pengalaman ini juga saya berhasil melawan ketakutan diri saya, dan ternyata saya mampu melewati batas diri serta keluar dari zona nyaman saya. Travelling is more than happiness, it will increase your self confidence and make you to be better person.
Semoga tulisan ini bermanfaat buat semua. Terimaksih. Wassalamualaikum. Daaaaaaaah.......
Regards
Satrio