Sabtu, 10 Agustus 2019

Ekspedisi Barat Borneo bagian II (Singkawang)

Setelah melengkapi cerita pada bagian I, Kali ini saya akan mengupas tuntas perjalanan saya pada Ekspedisi Barat Borneo bagian II.

Kali ini rute yang saya pilih adalah Pontianak - Singkawang, dan akan kenuju Kuching.

Setelah menginap selama 1 malam di Pontianak, paginya sekitar pukul 06.00 wib, saya langsung mencari tahu daftar travel yang beroperasi pada jurusan Pontianak - Singkawang. Pilihan saya Jatuh pada NCS Taxi. 


Setelah mandi dan packing, pukul 07.00 saya check-out dari Hostel. Kebetulan saat itu saya sudah menghubungi rekan kuliah dulu yang tinggal di Pontianak. Berhubung  hubungan baik dan komunikasi kami masih terjaga, kami agendakan untuk sarapan bersama di daerah Setia Budi, Pontianak. Pukul 08.00 wib travel sudah datang untuk menjemput saya, dan tibalah saatnya untuk menuju salah satu kota yang saya idam-idamkan dari kecil dulu, "SINGKAWANG".

Perjalanan kali ini menempuh waktu sekitar 3 jam, kebetulan armada yang digunakan adalah Toyota Avanza dan saya request untuk duduk di depan, agar bisa menikmati perjalanan kali ini. Saat itu penumpang hanya 4 orang saja, Jalanan pun masih agak lengang.

Sekitar Pukul 11.30 wib kami tiba di kota Singkawang. Kebetulan hari itu adalah hari Jumat, destinasi tujuan saya adalah masjid agung, sekalian untuk melaksanakan Sholat Jumat, menurut lelucon beberapa orang, setiap pemuda muslim yang melaksanakan sholat jumat, tingkat kegentengannya akan meningkat secara drastis :D

Masjid agung Singkawang terletak di Tengah Kota, walaupun tidak begitu besar dan luar, masjid ini tampak Indah dan nyaman, karena salah satu yang paling terkenal di Singkawang adalah toleransi antar umat beragamanya yang cukup tinggi, dimana 3 (tiga) etnis hidup berdampingan secara damai, yakni antara Melayu, China, dan Dayak. 

Setelah melaksanakan Sholat Jumat, saya segera menuju Hotel yang sudah saya pesan sebelumnya, lagi-lagi melalui aplikasi Traveloka. Aplikasi ini merupakan aplikasi favorit saya setiap kali melakukan perjalanan, disamping pilihan hotel yang lengkap, terdapat juga rating dan review dari para customer sebelumnya yang akan menudahkan kita mencari pilihan akomodasi yang nyaman. dan juga harga yang terjangkau :D

Pilihan saya jatuh pada Hotel Singkawang, yang terletak sangat strategis di tengah kota, berhubung destinasi yang akan saya datangi hanya berada di sekitaran pusat kota saja, maka saya memutuskan untuk menginap di Hotel Singkawang. Lokasinya berada di belakang Vihara Tri Dharma yang Ikonik itu.
Hotel Singkawang (dokumen Pribadi)

Kota ini indah, seperti yang sudah saya bayangkan sebelumnya. Setelah sekian purnama, mimpi saya untuk menginjakkan kaki di kota ini menjadi kenyataan. Saya memutuskan untuk berada di Singkawang hanya 1 (satu) hari saja, dikarenakan terbatasnya waktu untuk melakukan trip kali ini, karena saya harus segera bertolak ke Kuching keesokan harinya.

Destinasi saya yang pertama tentu Vihara Tri Darma, selain ikonik, Vihara tersebut adalah Vihara tertua di Kota Singkawang dan merupakan salah satu cagar warisan budaya setempat. Lokasi yang sangat strategis akan sangat memudahkan para wisatawan untuk menemukan Vihara ini, letaknya sangat berdekatan dengan Masjid Agung Singkawang.


Vihara Tri Dharma (Dokumen pribadi)

Vihara ini buka sampai dengan pukul 17.00 wib, jadi sebelum itu saya sempatkan untuk melihat seluruh detail Vihara dan aktivitas di sana. Saya juga menyempatkan diri melakukan ramalan mengenai nasib pada tahun ini hehe.

setelah itu perjalanan saya lanjutkan ke Kawasan Tradisional Ruma Kelaurga Tjhia (yang sangat tersohor itu) rumah ini telah ditempati selama ratusan tahun yang saat ini ditinggali oleh generasi kelima keluarga Tjhia. Lokasinya berada tidak jauh dari Vihara Tri Dharma, yang dapat ditempuh cukup berjalan kaki sekitar 10 menit saja.



Kawasan Tradisional Rumah Kelaurga Tjhia (Dokumen Pribadi)

Pada kawasan ini terlihat bangunan-bangunan yang cukup tua sebagai saksi sejarah bagaimana keluarga besar ini mempu melestarikan budaya-budayanya selama ratusan tahun. Oh iya jangan sampai lupa untuk menikmati kudapan yang ada di kantin kawasan rumah keluarga ini, yakni Choipan. Choipan yang ada di kawasan rumah keluarga ini terkenal sangat enak. saya sempat mencicipi 1(satu) porsi Choipan dengan isi 10 (sepuluh) pieces dengan choipan isi bengkoang dan ebi. hanya dengan Rp 20.000 saja, cukup murah bukan?


Choipan Singkawang (Dokumen Pribadi)

Menurut orang-orang, belum sah ke Singkawang kalo belum coba makanan ini. Enak banget!


Menjelang petang, Destinasi saya berikutnya adalah patung naga. Masih di sekitaran pusat kota, lokasinya cukup mudah untuk ditemui. Saya sengaja berkeliling kota dengan berjalan kaki, disamping destinasi wisatanya tidak begitu berjauhan, saya ingin merasakan atmosfer yang nyata ketika saya bisa berinteraksi dengan warga lokal dan juga berjalan kaki itu menyehatkan.

Patung naga Singkawang (Dokumen Pribadi)

Pada malam harinya, saya menghabiskan untuk berkeliling kota mengunakan grab car, dengan menuju Grand Singkawang Mall, mall yang langsung terintegrasi dengan hotel Swiss Bell-in ini begitu megah. Kemudian berhubung saya bekerja di salah satu instansi vertikal pemerintah, yakni Direktorat Jenderal Imigrasi, saya menyempatkan untuk berfoto di depan Kantor Imigrasi Kelas II Singkawang untuk mengabadikan momen. setelah itu, saya sempatkan untuk berburu kuliner di pasar Hongkong sejenak, sebelum kembali menelusuri jalanan kota Singkawang dan mengabadikan sejenak foto Vihara Tri Dharma pada malam hari,

Vihara Tri Dharma pada malam hari yang tampak indah (Dokumen Pribadi)

Walaupun hanya perjalanan satu hari saja, saya begitu menikmati momen saat menjadi bagian dari warga Singkawang. Rute saya keesokan harinya adalah Kuching, Kota terbesar keempat di Malaysia, dan juga merupakan ibu kota negara bagian Sarawak.
Salam








Selasa, 23 Juli 2019

Ekspedisi Barat Borneo bagian I (Kalteng - Kalbar)

Setelah lebih dari satu tahun vakum dari blog ini, saya akan menceritakan cerita seru dibalik ekspedisi barat borneo saya kali ini.

Ekspedisi Barat Borneo (Kalteng-Kalbar-Sarawak)

Mungkin teman-teman banyak yang bertanya, terutama teman-teman dari kalimantan tengah, apakah tersedia transportasi umum melalui darat yang langsung menuju pontianak?
Jawabannya Ada. Saat ini rute terdekat adalah melalui Pangkalan Bun, ibu kota Kabupaten Kotawaringin Barat. Jika teman-teman berangkat dari Palangkaraya, Pangkalan Bun dapat ditempuh sekitar 8 jam perjalanan melalui darat. Ada banyak sekali tersedia bus demgan rute Palangkaraya - Pangkalan Bun, mulai dari Yessoe, Logos, Agung Mulia hingga Damri. Semua bisa diakses setiap hari. Bahkan untuk armada Yessoe, mereka berangkat 3 kali sehari menuju Pangkalan Bun, begitu juga sebaliknya. Pengalaman pribadi saya, saya telah mencoba semua armada di atas kecuali damri, dan saya puas akan layanan yang diberikan, terutama bus super eksekutif. Penumpang akan dimanjakan dengan bus super mewah, nyaman, charger HP, kue kotak, hingga selimut. Sangat nyaman sekali. Untuk harga ada dikisaran Rp 200.000 yang sangat worth it menurut saya untuk perjalanan darat sejauh lebih dari 400 km yang ditempuh dalam waktu 8-9 jam.
Berikut daftar armada bus untuk Rute Palangkaraya - Pangkalan Bun:

  1. Yessoe
  2. Agung Mulia
  3. Logos
  4. Damri
Kebetulan dalam perjalanan ekspedisi barat borneo kali ini, saya sedang berada di Pangkalan Bun. Untuk menuju pontianak ada 2 armada yang tersedia, yakni Yessoe dan Damri. Yessoe dengan jadwal keberangkatan 3 kali seminggu dan damri yang berangkat setiap hari. Teman-teman bisa naik dari Terminal Natai Suka, Pangkalan Bun dengan tarif Rp 400.000 untuk sekali jalan dengan rute Pangkalan Bun - Pontianak. Perjalanan akan ditempuh lebih kurang 15 jam perjalanan. Kebetulan kali ini saya menggunakan armada Damri. Memang perjalanan yang lama dan melelahkan sekali. Tapi demi hasrat travelling yang menggebu-gebu kali ini. Perjalanan tersebut saya nikmati dengan santai. Oh iya, untuk rute ini, bus akan berangkat dari Pangkalan Bun pukul 07.00 wib, namun tetap saja, bukan armada Indonesia kalau tidak telat. Bus baru akan berjalan pukul setengah 8.

Berikut Armada Bus jurusan Pangkalan Bun - Pontianak:

  1. Yessoe
  2. Damri

Armada bus damri yang kami gunakan

Rute yang dilalui adalah jalan Trans Kalimantan yang sudah terhubung satu dengan yang lain, mulai dari Kalbar sampai dengan Kaltim, semua sudah terhubung. Jalan Trans Kalimantan ini bisa dibilang cukup mulus. Walau ada beberapa titik yang sedang dalam perbaikan, terutama di daerah Kabupaten Lamandau, tapi sejauh ini tidak ada kendala berarti dalam perjalanan kali ini. Kondisi jalanan di Kabupaten Lamandau cukup berliku terutama pada area perbatasan antara kalteng dengan kalbar. Lika- likunya cukup ekstrim haha. Pada saat tiba di perbatasan kalteng-kalbar, bus yang kami tumpangi berhenti untuk istirahat, lebih kurang setelah 6 jam perjalanan. 

Gapura perbatasan antara Kalteng dan Kalbar

setelah perjalanan yang sungguh melelahkan, kami tiba di pontianak pada pukul 23.00 dengan kondisi hujan lebat yang mengguyur Pontianak. Tujuan akhirnya adalah pul Damri yang ada di jl.Pahlawan, Pontianak. Ada kejadian unik ketika saya tiba di pul Damri Pontianak, ojek-ojek pangkalan berebut untuk mendapatkan penumpang, walaupun sudah saya tolak beberapa kali, masih saja saya dikejar-kejar, dan lucunya lagi, ojek online (baik motor ataupun mobil) tidak boleh mengambil penumpang dari sana. 
Sebelumnya saya sudah memesan Hostel melalui traveloka, pilihan saya jatuh pada The Colour Hostel yang ada di jalan Tanjung Pura dekat simpang setia budi. Hostel ini merupakan hotel kapsul yang mendapat rating bagus di traveloka, kerena saya penasaran, saya booked untuk 1 malam. Harganya juga sangat terjangkau, hanya Rp 89.000.

(Kembali ke cerita di atas)
Saya tidak mengacuhkan rayuan ojek pangkalan itu untuk mengantar saya. Berhubung hujan lebat, saya tetap memesan Grab Car. Berdasarkan rencana yang telah saya buat, sebenarnya saya ingin jalan kaki menuju hostel tersebut, tapi berhubung hujan lebat, jadi saya urungkan niat itu dan memesan Grab car. Ojek-ojek pangkalan intu sepertinya tidak terima dan marah ketika grab car yang saya pesan datang menjemput saya, namun saya jelaskan kepada mereka bahwa drivernya adalah saudara saya.

Tiba di Hostel, saya lamgsung check-in. Dan benar, sesuai dengan review yang ada di traveloka, hostel ini rapi dan bersih sekali. Keren. Ini adalah pertama kalinya saya menginap di hostel Kapsul. Walaupun dari ukurannya kecil, tapi untuk kenyamanan, tidak perlu diragukan lagi.

Itulah sepenggal cerita dari bagian ke-satu dari perjalanan ekspedisi barat borneo saya kali ini. Cerita berikutnya akan saya ulas di espedisi barat borneo bagian II.

Senin, 15 Januari 2018

“Upgrade Dirimu” melalui ajang pemilihan Putra-Putri Pariwisata Kota Palangka Raya

Bagi sebagian besar masyarakat, ajang pemilihan duta pariwisata mungkin bukanlah hal baru lagi. Terlebih masyarakat telah lebih dulu mengenal ajang pemilihan “Abang None DKI Jakarta” setiap tahunnya. Tentu tiap-tiap daerah mempunyai sebutan masing-masing dalam ajang pencarian duta wisatanya, sebut saja “Mojang Jajaka di Jawa Barat, Bujang Gadis di Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Jambi, lalu ada juga Kakang Bekayu di Kabupaten Banyumas, dan sebagainya.
            Wonderful Indonesia sebagai tagline pariwisata Indonesia, saat ini sedang menjadi sorotan masyarakat dunia, terbukti dengan menyabet beberapa penghargaan bergengsi global seperti World Halal Tourism Awards 2016 dan 2017 serta UNWTO Tourism Video competition 2017 yang menempatkan Wonderful Indonesia sebagai juara di kategori Region of East Asia & the Pacific serta kategori People Choice Awards, belum lagi termasuk berbagai penghargaan dunia lainnya.
            Sebagai negara dengan potensi wisata yang sangat luar biasa tentu sudah selayaknya Indonesia mempersiapkan sumber daya manusia  yang akan menjadi ikon promosi wisatanya dengan sebaik-baiknya. Terlebih dengan rencana pemerintah untuk mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2019 nanti menuntut kita untuk mempersiapkan duta-duta wisata yang kredibel dan berkualitas global.
            Palangka Raya, sebagai ibu kota Provinsi kalimantan Tengah, setiap tahunnya selalu mempersiapkan duta-duta wisatanya melalui ajang pemilihan Putra-Putri Pariwisata Kota Palangka Raya. Sebelum bernama Putra-Putri Pariwisata, ajang pemilihan duta pariwisata kota Palangka Raya bernama Jagau dan Bawi Nyai Pariwisata. Disamping sebagai salah satu pusat penelitian lahan gambut, saat ini Palangka Raya berkembang menjadi sebuah kota dengan eko-wisatanya.
            Tidak seperti ajang beauty and pageant lainnya, ajang pemilihan duta pariwisata tidak hanya menonjolkan aspek fisik semata, akan tetapi wawasan pariwisata serta kearifan budaya lokal dalam ajang seleksi ini poin penting. Lalu hal apa yang diperlukan dan apa yang perlu dipersiapkan dalam ajang pemilihan Putra-Putri Pariwisata Kota Palangka Raya?
            Sebagai icon ambassador, duta pariwisata merupakan representasi pariwisata suatu daerah. Kalian dituntut untuk menjadi wajah depan dari pariwisata dan kebudayaan kota Palangka Raya. Wawasan kepariwisataan dan budaya lokal menjadi hal utama dalam penilaian ajang pemilihan ini. Pengetahuan mengenai makna dari 7 Sapta Pesona harus dapat diterapkan sebaik-baiknya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu makna filosofi adat dayak yakni “Humah Betang” juga menjadi dasar penilaian, tentang bagaimana kalian menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan bermasyarakat.
            Pada dasarnya ajang pemilihan Putra-putri Pariwisata Kota Palangka Raya terdapat beberapa tahapan, seperti technical meeting yang dilaksanakan sebelum pelaksanaan seleksi, sesi karantina yang biasanya berupa pemaparan materi oleh para pembicara dibidang kepariwisataan, sesi wawancara dan pemaparan konsep model wisata, sesi latihan koreografi, sesi unjuk bakat, dan terakhir sampai pada acara puncak malam grand final. Yang semua itu berlangsung lebih kurang satu minggu dan harus dipersiapkan dengan matang, mulai dari niat, usaha, dan doa. Tapi yang ini mungkin terdengar agak sedikit klasik, kata-kata inspirasi dari Yasa Singgih, CEO dari brand sepatu lokal ternama Men’s Republic, “bahwa kerja keras itu tidak akan berkhianat, dan keringat tidak akan berdusta”.
            Kemampuan berkomunikasi juga dijadikan sebagai bahan pijakan agar seorang duta wisata nantinya mengetahui bagaimana cara mempromosikan pariwisata dan bagaimana cara bertutur krama yang baik. Melihat dari sejarah-sejarah sebelumnya, dalam ajang pemilihan Putra-Putri Pariwisata Kota Palangka Raya, peserta selalu di dominasi oleh mahasiswa dari program study Bahasa Inggris. Tapi hal itu bukan menjadi penghalang untuk teman-teman yang bukan berasal dari prodi Bahasa Inggris mengingat pemilihan Putra-Putri Pariwisata bukan ajang seperti debate atau speech competition, melainkan menjadi seorang ambassador untuk pariwisata daerahnya. Ajang ini terbuka untuk semua kalangan yang berusia 17-25 tahun. Apapun background pendidikanmu, lakukan yang terbaik. Karena ini adalah kesempatan kita untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya dan jaringan pertemanan seluas-luasnya, kalau bisa dapat “gebetan” itu mungkin bonus hehe.
            Disamping itu adalah seorang duta pariwisata harus berwawasan global, tidak hanya aware terhadap isu-isu lokal saja, tetapi juga terhadap isu-isu terbaru dunia. Karena ketika sesi wawancara, kalian akan diuji sejauh mana pendangan kalian terhadap isu-isu global yang berkembang saat ini. Bagaimana cara kalian menyikapinya dan apa solusi yang bisa diimplementasikan. Hal ini akan sangat berguna untuk membuka wawasan kalian terhadap dunia global. Dan jangan lupa, akan ada sesi persentasi dimana kalian akan diminta untuk memaparkan suatu model konsep pariwisata yang cocok diterapkan untuk kota Palangka Raya. Ini adalah kesempatan kalian untuk show up ide-ide brilian kalian di depan para juri nantinya.
            Karena budaya juga merupakan bagian dari dunia pariwisata, akan ada ajang unjuk bakat, yang nantinya harus dipersiapkan dengan baik, mulai dari busana adat, make up, dan peralatan-peralatan penunjang lainnya. Tapi sangat  disarankan untuk menampilkan tari tradisional dari Kalimantan Tengah. Karena lewat tari, kita tidak hanya dituntut untuk bergerak sesuai dengan irama saja, tetapi juga turut meresapi makna setiap gerakan yang ada yang melambangkan makna-makna kebudayaan Kalimantan Tengah.
            Last but not least, persiapkan pakaian malam grand final-mu sebaik mungkin, karena pada malam ini kalian akan tampil habis-habisan di panggung yang biasanya akan disaksikan oleh pejabat-pejabat publik serta masyarakat umum. Tampilkan yang terbaik.

Source: instagram @satriosamtha

            Menjadi duta pariwisata itu bukan hanya sebatas gelar saja, tapi bagaimana cara kalian mempertangungjawabkannya nanti. Persiapkan diri kalian dengan matang dan jadilah bagian dari perubahan, untuk dirimu dan juga masyarakat banyak. Karena hal-hal besar tidak akan dicapai tanpa melakukan hal-hal kecil terlebih dahulu. Kenali Negerimu, Cintai Negerimu. Explore Palangka Raya.
Pesona Indonesia
@indtravel
Salam,



Satrio Samtha Nugraha
Putra Pariwisata Intelegensia Kota Palangka Raya 2017

Instagram : @satriosamtha

Selasa, 10 Januari 2017

Break Your Limit:Going Abroad alone (Singapore)

Traveling itu ibarat candu bagiku. Kali ini saya akan membahas seputar traveling asyik nan murah ala backpacker.

Dimulai pada tahun 2016 lalu, tepatnya sekitar bulan Juni, pertama kalinya saya mendarat di Kota Batam. Ya, kota yang katanya harga barang-barang elektroniknya murah hehe. Terbesit keninginan saya untuk mencari tahu hal tersebut. Dan setelah saya telusuri, mengapa harga barang elektronik di Kota Batam lebih murah dibandingkan dengan di tempat lain karena di Batam ada kebijakan free pajak. So, semua barang-barang impor tidak dikenakan pajak yang sebesar 10% itu. Jadi kalau harga HP di Jakarta Rp 1.000.000 di Batam harganya Rp 900.000. Jadi memang benar kalau Batam itu surganya belanja hehe.

Well, ini pertama kalinya saya mengunjungi Batam, bukan cuma berkunjung sih, karena saya akan tinggal disana sekitar + 3 bulan, terhitung sejak Juni -September 2016 untuk sebuah project. Saya ingat ketika itu hari pertama puasa, saya beramgkat dari Jakarta dan sahur di jalan, kebetulan pesawat saya terbang jam 05.30 Pagi berangkat dari Soekarno Hatta International Airport menuju Hang Nadim International Airport.

Besar dan tinggal di daerah sedikit membuat saya merasa bahwa dunia itu sempit. Maklum saya dari kota kecil di pesisir Sumatera hehe. Jadi untuk berpergian ke luar daerah jarang saya lakukan, apalagi memiliki rencana untuk ke luar negeri adalah hal yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Belum lagi bahasa inggris saya juga pas-pasan. Mengingat Batam merupakan daerah khusus yang ditetapkan oleh pemerintah yang juga merupakan pintu gerbang terbesar ketiga bagi turis mancanegara yang masuk ke Indonesia. Tapi pengalaman selama 1 tahun hidup dan tinggal di Jakarta memberikan semangat dan pemikiran baru buat saya. Keinginan saya untuk mengexplore diri semakin menggebu-gebu. Kebetulan ketika itu saya dapat project ke Batam. Jadi saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Rencana dan persiapan sudah saya atur sedemikian rupa. FYI, sebelumnya saya belum punya passport, jadi saya buat passport di Batam. Prosesnya cukup mudah, karena saya tidak ingin antri di kantor imigrasi Batam, jadi saya putuskan untuk mendaftar secara online di http://www.imigrasi.go.id/. Kebetulan sistem pendaftaran passport online sudah tersedia dan bisa dkakses. Saya pilih untuk membuat passport biasa, karena kalau passport elektronik rada sensitif dan mesti dijaga baik-baik agar tidak rusak. Tapi makin kesini saya merasa pasport elektronik akan lebih berguna mengingat Jepang sudah membebaskan visa bagi pemegang pasport elektronik hehe. Cukup dengan membayar biaya pembuatan passport sebesar 355.000. Setelah proses pendaftaran dan pembayaran selesai saya mendaftarkan diri di kantor imigrasi untuk proses wawancara, pengecekan berkas, dan photo session dan 4 hari kemudian saya mendapatkan passport pertama saya. Walaupun belum tau kapan ke luar negerinya, yang penting udah punya passport dulu (permainan mindset) hehe.

Sesuai dengan rencana awal, saya berencana untuk ke Singapore bersama Mona Ervita, sohib banget dari kecil, tetapi berhubung ada hal-hal lain, jadi dia memutuskan untuk berlibur ke Lombok. NB: Mona memang partner terbaik untuk jalan-jalan :D.

Saya melakukan riset sekitar 1 minggu mengenai destinasi wisata negeri singa, kemudian saya beranikan diri untuk berangkat. Waktu itu adalah lebaran pertama dan saya pengen menghabiskan lebaran saya di negeri orang hehe. Oh iya ini adalah solo traveling saya yang pertama. Niatannya sih ngasih challenge gitu ke diri sendiri, berani ga sih traveling sendirian? hehe

Jam 06.00 pagi saya sudah bersiap untuk berangkat ke Pelabuhan Batam Center. Pelabuhan ini berada di pusat pemerintahan Kota Batam yang langsung terintegrasi dengan Mall Batam Center, Kereeeen. Saya menggunakan jasa penyeberangan dari Sindo Ferry. Harganya 300 ribu untuk tiket PP Batam-SG dan SG-Batam, udah termasuk seaport tax lagi. Oh iya, saya sarankan jangan membeli tiket on the spot di pelabuhan, karena akan lebih mahal dibanding membeli di gerai gerai loket pada umumnya. Waktu itu saya beli tiket ferry di Mall Batam Center 3 hari sebelumnya, sekalian nuker uang di money changer.

Untuk perjalanan kali ini saya hanya persiapkan Budged Rp 2.000.000 saja, sekitar SGD 200. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam 10 menit menuju Harbourfront Ferry Terminal.

Suasana di pelabuhan Harbourfront, diseberangnya ada Pulau Sentosa tempat Universal Studio

Saya kaget ketika sampai, suasana sangat ramai. saya sampai di Singapore jam 11.10 waktu Singapore. Waktu Singapore memang lebih cepat 1 jam dari WIB dikarenakn faktor politik. Mungkin karena hari libur panjang, jadi banyak warga Indonesia berbondong-bondong wisata ke negeri singa. Saya sempat dicegat oleh salah satu petugas imigrasi Singapore. Kesannya seperti pengalaman pahit. Mungkin karena saya pergi sendirian jadi saya dicurigai. Bisa jadi tampang saya mirip penjahat haha. Setelah diintrogasi selama sebih dari 1 jam saya dibebaskan. Alhamdulillah. Padahal udah pucat pasi waktu itu takut dideportasi dari Singapore. Sampai saya sempat dimakukkan ke alat semacam inkubator sambil disemprot-semprot dengan udara. Semua diperiksa, mulai dari kelengkapan dokumen, apa tujuan ke Singapore, akan tinggal dimana selama di singapore, asal dari mana, nama orang tua, dan jumlah uang yang dibawa juga akan ditanya haha. Saya jadi dapet pengalaman baru diintrogasi pihak imigrasi ✌✌✌. Sebagai catatan, dari beberapa cerita para traveler lain, petugas imigrasi singapore memang cenderung ketat dalam memeriksa. Dikarenakan mereka tidak mau kecolongan sedikitpun hal-hal yang tidak diingikan masuk ke singapore.

Pelabuhan Harbourfront langsung terintegrasi dengan Mall Vivo City, menurut kabar, mall ini merupakan mall terbesar di negeri singa dan langsung akan terintegrasi oleh stasiun MRT (Mass Rapid Transit). Lalu untuk provider telekomunikasi, saya menggunakan Singtel tourist pass dengan kuota data 4 GB masa aktif selama 1 minggu yang saya beli di dalam mall. Harganya cukup mahal sekitar SGD 15, ternyata harga di seven eleven jauh lebih murah. Nyesel saya beli hiks...

Peta Jalur MRT di Singapore

MRT merupakan transportasi yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Singapura, selain murah dan juga bebas polusi, statiun-stasiun MRT juga langsung terintegrasi dengan titik-titik penting yang ada di Singapore. Jangan lupa beli kartu MRT dulu di loket stasiun. Kita bisa memilih menggunakan EZ Link Card Tourist pass atau membeli kartu EZ Link Card Regular. Saya lebih memilih EZ Link Card yang regular yang masa aktifnya lebih lama, sekitar 3 tahun.
Kartu EZ Link Card MRT

MRT Map

Sesuai dengan itenerary, saya akan menghabiskan 3 hari di negeri singa. Dari Vivo city saya langsung menuju Bugis dan turun di Stasiun Bugis. Sebelumnya saya sudah memesan Hostel lewat traveloka, pilihan saya jatuh pada ABC Backpackers Hostel di jalan Kubor dekat dengan Masjid Sultan. harganya juga bersahabat Rp 170.000 permalam, sudah komplit termasuk breakfast dan wifi, 1 kamar berisi 8 orang dengan 4 tempat tidur bertingkat. Untung kamar tersebut tidak penuh, hanya berisi 4 orang saja hehe.
ABC Backpackers Hostel

Berhubung dalam suasana Idul Fitri, hari pertama saya langsung menuju Masjid Sultan atau orang lokal biasa nyebutnya dengan Sultan Mosque yang terletak masih di daerah Bugis. Masjid ini merupakan masjid tertua di Singapore. Lingkungannya sangat kental dengan suasana arab, karena di daerah sini terdapat kampung-kampung arab, seperti Arab street dan kampung Glam. Makanannya pun juga banyak terdapat makanan Arab dan India seperti nasi kebuli dan nasi briyani dengan porsi Jumbooooooo. Setelah puas menjelajahi Kampong Arab, saya segera menuju Garden by the Bay menggunakan MRT. Saya sengaja berangkat sore, karena tujuan saya hari itu adalah Merlion Park yang akan sangat indah di malam hari.
Garden by the Bay dan Marina Bay Sand

Singapore River

Yang perlu diketahui, malam hari merupakan saat yang tepat untuk melihat keindahan Singapore. Saya begitu takjub dengan permainan laser dari Marina Bay Sand dan suasana gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi. malam itu saya habiskan menikmati indahnya negeri singa hehe.

Hari kedua saya start dari hostel jam 09.00 waktu Singapore. Tujuan saya adalah Bencoolen street, National Museum, SMU, dan China Town. Bencoolen street sangat menarik perhatian saya, sebagai orang yang lahir dan besar di Bengkulu, saya begitu penasaran akan nama jalan ini. Menurut sejarah, Nama Bengkulu sendiri berasal dari Bencoolen semasa Zaman Kolonial Inggris, kemudian saat Indonesia ditukar dengan Singapura oleh Inggris kepada Belanda, maka nama Bencoolen juga dibawa ke Singapore. Jadi jangan heran kalau Bunga Raflesia yang notabennya adalah bunga endemik Provinsi Bengkulu begitu dikenal di Singapura, karena dulu ditemukan oleh Sir Thomas Stanford Raffles ketika di Bengkulu. Saya sengaja memilih destinasi yang tidak biasanya. Karena tujuan utama saya traveling itu sendiri adalah mengamati dan belajar. Pertanyaannya adalah mengamati apa? belajar apa?
Jepang ketika terisolasi mereka begitu tertinggal sampai terjadi Restorasi Meiji yang membuka Jepang ke dunia Internasional. Bangsa Jepang berhasil membawa apa yang mereka pelajari di luar, sehingga Jepang berhasil menjadi negara maju seperti sekarang. Jadi bukan berarti Indonesia terisolasi seperti Jepang sebelum ada Restorasi Meiji ya, tapi lewat traveling saya akan berusaha membawa hal-hal yang positif untuk Indonesia. Saya juga begitu takjub dengan model promosi pariwisata mereka. 2015 saja jumlah wisatawan mancanegara mereka mencapai 15,2 juta wisatawan, sekitar 30% dari mereka adalah warga negara Indonesia, termasuk saya. Padahal jumlah penduduk Singapore sendiri berjumlah 5 juta orang. Artinya jumlah wisatawan Singapore 3 kali lebih banyak daripada jumlah penduduknya sendiri. Amazing kan? Keberadaan city maps akan sangat membantu para wisatawan yang akan berkeliling Singapore yang tersedia di semua penginapan di negeri singa secara GRATIS. Setelah puas mengelilingi daerah Bencoolen Street saya langsung menuju National Museum of Singapore dengan berjalan kaki, lumayan olahraga sedikit, mumpung tidak terlalu jauh. Kemudian saya langsung memasuki area Singapore Management University (SMU) sebagai sekolah bisnis top di SIngapore bahkan di Asia yang letaknya hanya berseberangan dengan National Museum of Singapore. Saya jadi ingat, apakah saya bisa melanjutkan studi saya di negeri ini? suatu saat nanti.

Bencoolen Street 

 Museum Nasional Singapura

SMU Campus

China Town's Gate 

Stasium MRT China Town

Selanjutnya pemberhentian saya tertuju pada kawasan pecinan yang tersohor itu. China Town. Dari kecil saya sangat tertarik dengan budaya China. China Town identik dengan souvenir dan wisata kulinernya. Keunikan China town itu sendiri ada pada perpaduan budayanya yang menghasilkan budaya peranakan. Mulai dari makanannya, suasananya dan lingkungannya. Bagi kaum Muslim harus lebih berhati-hati dalam memilih makanan jika ingin mencicipi kuliner khas China Town, karena banyak sekali hawker stall atau street food yang menyajikan makanan yang tidak halal. Saran saya bertanya dahulu sebelum membeli, kebanyakan makanan halal yang recommended di china town adalah di pasar bagian atas, di sana banyak tersedia kedai-kedai makanan yang menjualan makanan berbahan dasar ikan. Singapore sendiri terkenal sebagai negara dengan biaya hidup yang tinggi. Tapi jangan khawatir, masih banyak kok tempat makan murah yang recommended, salah satunya adalah Annanas Cafe yang terdapat di banyak stasiun MRT, salah satunya di Stasiun Outram Park dan Tiong Bahru, cukup SGD 2 udah dapet nasi lemak + nuget Ayam hehe.

Hari ketiga agenda saya berlanjut ke NUS alias National University of Singapore, kampus yang selalu saya impikan untuk melanjutkan studi di sana. Kebetulan pagi itu Singapore sedang hujan ringan, Kendati demikian, saya memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Saya pikir hujan sedikit, nanti setelah masuk MRT juga tidak akan basah hehe. Hari itu adalah hari terakhir saya di Singapore, saya berancana untuk kembali ke Batam pada sore harinya. Pemberhentian pertama di NUS saya langsung turun di Stasiun Kent Ridge yang bersebelahan dengan NUS Hospital, FK nya NUS, kereeeeen. Kampus kondang yang satu ini memang terkenal sebagai kampus terbaik di Asia dan bahkan masuk top 20 kampus terbaik di Dunia versi QS World Ranking setiap tahunnya. Akses untuk menuju Area NUS tersedia bus kampus yang memadai dan cukup banyak jumlahnya sehingga mahasiswa tidak perlu berlajan kaki. 
 NUS Campus

Saya berjanji dengan diri saya, suatu saat saya akan melanjutkan sekolah di sana. Perjalanan berlanjut ke Little India. Kurang Afdol rasanya jika ke Singapore tidak ke Little India. Saya begitu terpana ketika melihat kuil-kuil di sana dengan arsitektur khas India. 

Sri Veeramakaliamman Temple

Menjelang siang sebelum pulang ke tanah air, saya sempatkan untuk wisata kuliner di daerah bugis, daerah ini banyak sekali terdapat food stall yang recommended, saya mencoba laksa singaporean, harganya sekitar SGD 5 walaupun rasanya sedikit berbeda dengan laksa-laksa yang pernah saya cicip di Sumatera, tapi untuk rasa recommended lah. Lalu jenis-jenis es juga saya coba untuk menghilangkan rasa penasaran saya, harganya sekitar SGD 1,5 - 2,5. Jika mau membeli souvenir, saya sarankan untuk membeli di Bugis Street, saya telah mencoba membandingkan harga di China Town dengan di bugis street. Ternyata harga Bugis Street lebih recommended dan lebih banyak pilihannya. jadi saya putuskan beli di Bugis hehe.
Pukul 16.00 waktu singapore saya putuskan untuk menuju Batam melalui Harbourfront lagi, kondisi saat itu sangat ramai, sehingga saya baru kebagian ferry jam 20.00 waktu Singapore, dan sampai di Batam jam 22.15, Alhamdulillah sampai dengan selamat.

Cerita pengalaman travelling itu merupakan pertama kalinya saya travelling ke luar negeri yang menuntut saya untuk bisa berkomunikasi dengan masyaraat lokal. Lewat pengalaman ini juga saya berhasil melawan ketakutan diri saya, dan ternyata saya mampu melewati batas diri serta keluar dari zona nyaman saya. Travelling is more than happiness, it will increase your self confidence and make you to be better person. 
Semoga tulisan ini bermanfaat buat semua. Terimaksih. Wassalamualaikum. Daaaaaaaah.......



Regards



Satrio