Sabtu, 10 Agustus 2019

Ekspedisi Barat Borneo bagian II (Singkawang)

Setelah melengkapi cerita pada bagian I, Kali ini saya akan mengupas tuntas perjalanan saya pada Ekspedisi Barat Borneo bagian II.

Kali ini rute yang saya pilih adalah Pontianak - Singkawang, dan akan kenuju Kuching.

Setelah menginap selama 1 malam di Pontianak, paginya sekitar pukul 06.00 wib, saya langsung mencari tahu daftar travel yang beroperasi pada jurusan Pontianak - Singkawang. Pilihan saya Jatuh pada NCS Taxi. 


Setelah mandi dan packing, pukul 07.00 saya check-out dari Hostel. Kebetulan saat itu saya sudah menghubungi rekan kuliah dulu yang tinggal di Pontianak. Berhubung  hubungan baik dan komunikasi kami masih terjaga, kami agendakan untuk sarapan bersama di daerah Setia Budi, Pontianak. Pukul 08.00 wib travel sudah datang untuk menjemput saya, dan tibalah saatnya untuk menuju salah satu kota yang saya idam-idamkan dari kecil dulu, "SINGKAWANG".

Perjalanan kali ini menempuh waktu sekitar 3 jam, kebetulan armada yang digunakan adalah Toyota Avanza dan saya request untuk duduk di depan, agar bisa menikmati perjalanan kali ini. Saat itu penumpang hanya 4 orang saja, Jalanan pun masih agak lengang.

Sekitar Pukul 11.30 wib kami tiba di kota Singkawang. Kebetulan hari itu adalah hari Jumat, destinasi tujuan saya adalah masjid agung, sekalian untuk melaksanakan Sholat Jumat, menurut lelucon beberapa orang, setiap pemuda muslim yang melaksanakan sholat jumat, tingkat kegentengannya akan meningkat secara drastis :D

Masjid agung Singkawang terletak di Tengah Kota, walaupun tidak begitu besar dan luar, masjid ini tampak Indah dan nyaman, karena salah satu yang paling terkenal di Singkawang adalah toleransi antar umat beragamanya yang cukup tinggi, dimana 3 (tiga) etnis hidup berdampingan secara damai, yakni antara Melayu, China, dan Dayak. 

Setelah melaksanakan Sholat Jumat, saya segera menuju Hotel yang sudah saya pesan sebelumnya, lagi-lagi melalui aplikasi Traveloka. Aplikasi ini merupakan aplikasi favorit saya setiap kali melakukan perjalanan, disamping pilihan hotel yang lengkap, terdapat juga rating dan review dari para customer sebelumnya yang akan menudahkan kita mencari pilihan akomodasi yang nyaman. dan juga harga yang terjangkau :D

Pilihan saya jatuh pada Hotel Singkawang, yang terletak sangat strategis di tengah kota, berhubung destinasi yang akan saya datangi hanya berada di sekitaran pusat kota saja, maka saya memutuskan untuk menginap di Hotel Singkawang. Lokasinya berada di belakang Vihara Tri Dharma yang Ikonik itu.
Hotel Singkawang (dokumen Pribadi)

Kota ini indah, seperti yang sudah saya bayangkan sebelumnya. Setelah sekian purnama, mimpi saya untuk menginjakkan kaki di kota ini menjadi kenyataan. Saya memutuskan untuk berada di Singkawang hanya 1 (satu) hari saja, dikarenakan terbatasnya waktu untuk melakukan trip kali ini, karena saya harus segera bertolak ke Kuching keesokan harinya.

Destinasi saya yang pertama tentu Vihara Tri Darma, selain ikonik, Vihara tersebut adalah Vihara tertua di Kota Singkawang dan merupakan salah satu cagar warisan budaya setempat. Lokasi yang sangat strategis akan sangat memudahkan para wisatawan untuk menemukan Vihara ini, letaknya sangat berdekatan dengan Masjid Agung Singkawang.


Vihara Tri Dharma (Dokumen pribadi)

Vihara ini buka sampai dengan pukul 17.00 wib, jadi sebelum itu saya sempatkan untuk melihat seluruh detail Vihara dan aktivitas di sana. Saya juga menyempatkan diri melakukan ramalan mengenai nasib pada tahun ini hehe.

setelah itu perjalanan saya lanjutkan ke Kawasan Tradisional Ruma Kelaurga Tjhia (yang sangat tersohor itu) rumah ini telah ditempati selama ratusan tahun yang saat ini ditinggali oleh generasi kelima keluarga Tjhia. Lokasinya berada tidak jauh dari Vihara Tri Dharma, yang dapat ditempuh cukup berjalan kaki sekitar 10 menit saja.



Kawasan Tradisional Rumah Kelaurga Tjhia (Dokumen Pribadi)

Pada kawasan ini terlihat bangunan-bangunan yang cukup tua sebagai saksi sejarah bagaimana keluarga besar ini mempu melestarikan budaya-budayanya selama ratusan tahun. Oh iya jangan sampai lupa untuk menikmati kudapan yang ada di kantin kawasan rumah keluarga ini, yakni Choipan. Choipan yang ada di kawasan rumah keluarga ini terkenal sangat enak. saya sempat mencicipi 1(satu) porsi Choipan dengan isi 10 (sepuluh) pieces dengan choipan isi bengkoang dan ebi. hanya dengan Rp 20.000 saja, cukup murah bukan?


Choipan Singkawang (Dokumen Pribadi)

Menurut orang-orang, belum sah ke Singkawang kalo belum coba makanan ini. Enak banget!


Menjelang petang, Destinasi saya berikutnya adalah patung naga. Masih di sekitaran pusat kota, lokasinya cukup mudah untuk ditemui. Saya sengaja berkeliling kota dengan berjalan kaki, disamping destinasi wisatanya tidak begitu berjauhan, saya ingin merasakan atmosfer yang nyata ketika saya bisa berinteraksi dengan warga lokal dan juga berjalan kaki itu menyehatkan.

Patung naga Singkawang (Dokumen Pribadi)

Pada malam harinya, saya menghabiskan untuk berkeliling kota mengunakan grab car, dengan menuju Grand Singkawang Mall, mall yang langsung terintegrasi dengan hotel Swiss Bell-in ini begitu megah. Kemudian berhubung saya bekerja di salah satu instansi vertikal pemerintah, yakni Direktorat Jenderal Imigrasi, saya menyempatkan untuk berfoto di depan Kantor Imigrasi Kelas II Singkawang untuk mengabadikan momen. setelah itu, saya sempatkan untuk berburu kuliner di pasar Hongkong sejenak, sebelum kembali menelusuri jalanan kota Singkawang dan mengabadikan sejenak foto Vihara Tri Dharma pada malam hari,

Vihara Tri Dharma pada malam hari yang tampak indah (Dokumen Pribadi)

Walaupun hanya perjalanan satu hari saja, saya begitu menikmati momen saat menjadi bagian dari warga Singkawang. Rute saya keesokan harinya adalah Kuching, Kota terbesar keempat di Malaysia, dan juga merupakan ibu kota negara bagian Sarawak.
Salam








Selasa, 23 Juli 2019

Ekspedisi Barat Borneo bagian I (Kalteng - Kalbar)

Setelah lebih dari satu tahun vakum dari blog ini, saya akan menceritakan cerita seru dibalik ekspedisi barat borneo saya kali ini.

Ekspedisi Barat Borneo (Kalteng-Kalbar-Sarawak)

Mungkin teman-teman banyak yang bertanya, terutama teman-teman dari kalimantan tengah, apakah tersedia transportasi umum melalui darat yang langsung menuju pontianak?
Jawabannya Ada. Saat ini rute terdekat adalah melalui Pangkalan Bun, ibu kota Kabupaten Kotawaringin Barat. Jika teman-teman berangkat dari Palangkaraya, Pangkalan Bun dapat ditempuh sekitar 8 jam perjalanan melalui darat. Ada banyak sekali tersedia bus demgan rute Palangkaraya - Pangkalan Bun, mulai dari Yessoe, Logos, Agung Mulia hingga Damri. Semua bisa diakses setiap hari. Bahkan untuk armada Yessoe, mereka berangkat 3 kali sehari menuju Pangkalan Bun, begitu juga sebaliknya. Pengalaman pribadi saya, saya telah mencoba semua armada di atas kecuali damri, dan saya puas akan layanan yang diberikan, terutama bus super eksekutif. Penumpang akan dimanjakan dengan bus super mewah, nyaman, charger HP, kue kotak, hingga selimut. Sangat nyaman sekali. Untuk harga ada dikisaran Rp 200.000 yang sangat worth it menurut saya untuk perjalanan darat sejauh lebih dari 400 km yang ditempuh dalam waktu 8-9 jam.
Berikut daftar armada bus untuk Rute Palangkaraya - Pangkalan Bun:

  1. Yessoe
  2. Agung Mulia
  3. Logos
  4. Damri
Kebetulan dalam perjalanan ekspedisi barat borneo kali ini, saya sedang berada di Pangkalan Bun. Untuk menuju pontianak ada 2 armada yang tersedia, yakni Yessoe dan Damri. Yessoe dengan jadwal keberangkatan 3 kali seminggu dan damri yang berangkat setiap hari. Teman-teman bisa naik dari Terminal Natai Suka, Pangkalan Bun dengan tarif Rp 400.000 untuk sekali jalan dengan rute Pangkalan Bun - Pontianak. Perjalanan akan ditempuh lebih kurang 15 jam perjalanan. Kebetulan kali ini saya menggunakan armada Damri. Memang perjalanan yang lama dan melelahkan sekali. Tapi demi hasrat travelling yang menggebu-gebu kali ini. Perjalanan tersebut saya nikmati dengan santai. Oh iya, untuk rute ini, bus akan berangkat dari Pangkalan Bun pukul 07.00 wib, namun tetap saja, bukan armada Indonesia kalau tidak telat. Bus baru akan berjalan pukul setengah 8.

Berikut Armada Bus jurusan Pangkalan Bun - Pontianak:

  1. Yessoe
  2. Damri

Armada bus damri yang kami gunakan

Rute yang dilalui adalah jalan Trans Kalimantan yang sudah terhubung satu dengan yang lain, mulai dari Kalbar sampai dengan Kaltim, semua sudah terhubung. Jalan Trans Kalimantan ini bisa dibilang cukup mulus. Walau ada beberapa titik yang sedang dalam perbaikan, terutama di daerah Kabupaten Lamandau, tapi sejauh ini tidak ada kendala berarti dalam perjalanan kali ini. Kondisi jalanan di Kabupaten Lamandau cukup berliku terutama pada area perbatasan antara kalteng dengan kalbar. Lika- likunya cukup ekstrim haha. Pada saat tiba di perbatasan kalteng-kalbar, bus yang kami tumpangi berhenti untuk istirahat, lebih kurang setelah 6 jam perjalanan. 

Gapura perbatasan antara Kalteng dan Kalbar

setelah perjalanan yang sungguh melelahkan, kami tiba di pontianak pada pukul 23.00 dengan kondisi hujan lebat yang mengguyur Pontianak. Tujuan akhirnya adalah pul Damri yang ada di jl.Pahlawan, Pontianak. Ada kejadian unik ketika saya tiba di pul Damri Pontianak, ojek-ojek pangkalan berebut untuk mendapatkan penumpang, walaupun sudah saya tolak beberapa kali, masih saja saya dikejar-kejar, dan lucunya lagi, ojek online (baik motor ataupun mobil) tidak boleh mengambil penumpang dari sana. 
Sebelumnya saya sudah memesan Hostel melalui traveloka, pilihan saya jatuh pada The Colour Hostel yang ada di jalan Tanjung Pura dekat simpang setia budi. Hostel ini merupakan hotel kapsul yang mendapat rating bagus di traveloka, kerena saya penasaran, saya booked untuk 1 malam. Harganya juga sangat terjangkau, hanya Rp 89.000.

(Kembali ke cerita di atas)
Saya tidak mengacuhkan rayuan ojek pangkalan itu untuk mengantar saya. Berhubung hujan lebat, saya tetap memesan Grab Car. Berdasarkan rencana yang telah saya buat, sebenarnya saya ingin jalan kaki menuju hostel tersebut, tapi berhubung hujan lebat, jadi saya urungkan niat itu dan memesan Grab car. Ojek-ojek pangkalan intu sepertinya tidak terima dan marah ketika grab car yang saya pesan datang menjemput saya, namun saya jelaskan kepada mereka bahwa drivernya adalah saudara saya.

Tiba di Hostel, saya lamgsung check-in. Dan benar, sesuai dengan review yang ada di traveloka, hostel ini rapi dan bersih sekali. Keren. Ini adalah pertama kalinya saya menginap di hostel Kapsul. Walaupun dari ukurannya kecil, tapi untuk kenyamanan, tidak perlu diragukan lagi.

Itulah sepenggal cerita dari bagian ke-satu dari perjalanan ekspedisi barat borneo saya kali ini. Cerita berikutnya akan saya ulas di espedisi barat borneo bagian II.